Kawasan Perdesaan Jadi Strategi Bone Bolango Ciptakan Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Bonebolango27 Dilihat

POROSNEWS.ID, Bone Bolango — Desa tidak seharusnya hanya menjadi tempat pembangunan berlangsung. Desa harus menjadi tempat pertumbuhan ekonomi dimulai.

Gagasan itulah yang mulai didorong Pemerintah Kabupaten Bone Bolango melalui rencana pengembangan Kawasan Perdesaan. Pendekatan ini menempatkan desa bukan sebagai unit yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari sebuah ekosistem ekonomi yang saling terhubung.

Langkah tersebut ditandai dengan kunjungan kerja Asisten II Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Bone Bolango, Yusbar Ismail, bersama Kepala Bappeda Litbang Bone Bolango, Sri Mulyani Lalijo, dan jajaran ke Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia, Rabu (12/8/2026).

Bagi Bone Bolango, pendekatan kawasan menjadi penting karena potensi ekonomi desa selama ini tidak selalu berhenti pada batas administratif sebuah desa.

Ada desa yang kuat di pertanian. Desa lain memiliki perkebunan, perikanan, UMKM, sumber daya alam atau tenaga kerja. Jika seluruh potensi itu berjalan sendiri-sendiri, nilai ekonominya bisa menjadi kecil.

Sebaliknya, ketika potensi tersebut dihubungkan dalam satu kawasan, terbuka kemungkinan munculnya rantai ekonomi baru.

“Kita ingin pembangunan desa tidak berjalan sendiri-sendiri. Potensi yang dimiliki masing-masing desa harus bisa dikembangkan secara terintegrasi sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar kepada masyarakat,” ujar Yusbar Ismail.

Di titik inilah konsep Kawasan Perdesaan menjadi lebih dari sekadar program pembangunan fisik.

Jalan, jembatan, irigasi dan infrastruktur lainnya memang penting. Tetapi infrastruktur akan kehilangan makna ekonomi apabila tidak menghubungkan produksi dengan pasar, petani dengan industri pengolahan, nelayan dengan distribusi, atau pelaku UMKM dengan konsumen.

Karena itu, pembangunan kawasan harus berbicara tentang konektivitas ekonomi.

“Kita ingin ada kawasan-kawasan yang tumbuh dari desa, dengan potensi lokal sebagai kekuatannya. Ketika potensi itu dikelola bersama dan didukung dengan perencanaan yang tepat, maka peluang meningkatkan pendapatan masyarakat juga semakin besar,” jelas Yusbar.

Bagi pemerintah daerah, orientasi akhirnya bukan sekadar terbentuknya sebuah kawasan baru. Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan tersebut mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.

Ada produksi. Ada pengolahan. Ada distribusi. Ada pasar. Dan yang paling penting, ada masyarakat desa yang mendapatkan nilai tambah dari seluruh proses tersebut.

Desa sebagai pusat pertumbuhan

Kepala Bappeda Litbang Bone Bolango, Sri Mulyani Lalijo, mengatakan pendekatan kawasan membutuhkan perencanaan yang matang agar pembangunan tidak sekadar mengikuti proyek, tetapi benar-benar berangkat dari potensi dan kebutuhan masyarakat.

“Kawasan Perdesaan ini kita dorong sebagai pendekatan pembangunan yang lebih terintegrasi. Kita tidak hanya melihat apa yang bisa dibangun, tetapi juga bagaimana potensi antar desa dapat dikoneksikan dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Bappeda Litbang, kata Sri Mulyani, akan memastikan rencana tersebut terintegrasi dengan dokumen perencanaan pembangunan daerah.

Artinya, kawasan tidak boleh lahir sebagai program yang berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari arah besar pembangunan Bone Bolango.

Potensi desa harus dipetakan. Persoalan harus dihitung. Infrastruktur yang dibutuhkan harus ditentukan. Pelaku ekonomi harus diidentifikasi. Dan indikator keberhasilannya harus dapat diukur.

Sebab ukuran keberhasilan pembangunan desa pada akhirnya bukan seberapa banyak bangunan yang berdiri, melainkan seberapa besar kemampuan masyarakat menghasilkan nilai ekonomi dari apa yang mereka miliki.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita memastikan perencanaan ini punya arah yang jelas, indikator yang terukur dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena tujuan akhirnya adalah bagaimana desa menjadi lebih produktif dan masyarakat semakin berdaya,” kata Sri Mulyani.

Dari potensi menjadi kekuatan ekonomi

Konsultasi dengan Kementerian Desa menjadi langkah awal bagi Bone Bolango untuk menyusun konsep yang lebih konkret.

Tahap berikutnya dapat diarahkan pada pemetaan potensi antardesa, penyusunan konsep kawasan hingga penentuan program prioritas.

Jika dirancang dengan tepat, Kawasan Perdesaan dapat menjadi ruang bertemunya berbagai kekuatan ekonomi lokal.

Pertanian tidak berhenti pada panen. Perkebunan tidak berhenti pada bahan mentah. Perikanan tidak berhenti pada hasil tangkapan. UMKM tidak berhenti pada produksi skala kecil.

Semuanya dapat dihubungkan dalam satu rantai nilai.

Di sanalah desa memiliki peluang untuk naik kelas.

Dan ketika desa mulai mampu menciptakan nilai tambah dari sumber dayanya sendiri, maka pembangunan tidak lagi sekadar datang dari atas ke bawah.

Desa mulai menjadi sumber pertumbuhan itu sendiri.

Pada akhirnya, gagasan Kawasan Perdesaan Bone Bolango bukan hanya tentang bagaimana membangun kawasan, tetapi tentang bagaimana membangun kekuatan ekonomi masyarakat dari bawah.

Karena desa yang produktif bukan hanya akan mengurangi kemiskinan. Desa yang produktif juga dapat menjadi fondasi bagi lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Bone Bolango.