Ismet Mile Ajak Warga Bone Bolango Jadikan Momentum Kemerdekaan untuk Bersama Membangun Daerah

Bonebolango77 Dilihat

POROSNEWS.ID, Bone Bolango — Peringatan Hari Ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kabupaten Bone Bolango tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Di balik pengibaran Sang Merah Putih di Alun-alun Kabupaten, Senin (17/8/2026), tersimpan pesan tentang bagaimana kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kerja bersama untuk membangun daerah.

Upacara berlangsung khidmat. Pasukan Paskibraka Bone Bolango menjalankan tugas pengibaran bendera di hadapan jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, ASN, TNI-Polri, pelajar, serta masyarakat.

Bupati Bone Bolango Ismet Mile hadir bersama Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan jajaran kepala OPD. Kehadiran para pemimpin daerah tersebut memperlihatkan satu pesan penting: pembangunan daerah membutuhkan kebersamaan, bukan kerja pemerintah semata.

Usai upacara, Ismet Mile mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk memperkuat persatuan.

Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan masyarakat saling menjauh. Justru dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pendapat harus ditempatkan sebagai bagian dari proses menemukan jalan terbaik bagi kepentingan rakyat.

“Momentum kemerdekaan ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperkuat persatuan. Mari kita hilangkan perbedaan yang dapat memecah kebersamaan dan bersama-sama membangun Bone Bolango,” ujar Ismet.

Bagi Ismet, pembangunan bukan hanya perkara program pemerintah, anggaran, atau proyek fisik. Pembangunan pada akhirnya adalah tentang manusia dan bagaimana seluruh masyarakat memiliki ruang untuk mengambil bagian di dalamnya.

Karena itu, ia mendorong keterlibatan tokoh masyarakat, pemuda, pelaku usaha, hingga masyarakat di desa dan kelurahan.

Semangat tersebut, kata dia, perlu dikembalikan kepada akar kehidupan masyarakat Indonesia: gotong royong.

Gotong royong bukan sekadar tradisi masa lalu. Ia merupakan modal sosial yang membuat masyarakat mampu menghadapi persoalan bersama ketika pemerintah memiliki keterbatasan.

“Pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Semua elemen masyarakat harus ikut mengambil bagian,” katanya.

Ia berharap masyarakat tidak hanya menempatkan diri sebagai penerima manfaat pembangunan. Warga juga harus menjadi bagian dari proses perubahan dengan memberikan kontribusi positif di lingkungan masing-masing.

Dalam konteks itu, kemerdekaan tidak cukup dimaknai dengan upacara, pengibaran bendera, dan perayaan setiap 17 Agustus.

Kemerdekaan harus hadir dalam bentuk masyarakat yang mampu hidup berdampingan, memiliki ruang untuk berusaha, memperoleh pelayanan yang layak, serta mempunyai kesempatan untuk ikut menentukan masa depan daerahnya.

Ismet juga mengingatkan bahwa perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Yang menjadi persoalan bukan perbedaannya, melainkan ketika perbedaan tersebut berubah menjadi konflik yang menggerus persaudaraan.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga persaudaraan dan menempatkan kepentingan masyarakat serta daerah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah pembangunan Bone Bolango yang membutuhkan stabilitas sosial dan partisipasi masyarakat. Sebab, sebesar apa pun program pemerintah, tanpa dukungan masyarakat, hasil pembangunan tidak akan pernah maksimal.

Menutup keterangannya, Ismet mengajak seluruh masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, dan suasana kondusif.

Baginya, persatuan bukan hanya nilai yang dirayakan pada hari kemerdekaan. Persatuan adalah modal yang harus dipelihara setiap hari agar pembangunan berjalan berkelanjutan dan manfaatnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Kemerdekaan, dengan demikian, bukan titik akhir dari perjuangan. Ia adalah awal dari pekerjaan yang lebih panjang: memastikan setiap warga memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik dan ikut menentukan arah masa depan daerahnya.