dr. Meyrin Kadir Paparkan Data Penyakit Menular 2026, ISPA Dominasi dengan 4.882 Kasus

Bonebolango102 Dilihat

POROSNEWS.ID, Bone Bolango – Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango mencatat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit menular dengan jumlah kasus tertinggi sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), hingga pertengahan tahun ini tercatat sebanyak 4.882 kasus ISPA, menjadikannya penyakit yang paling banyak ditemukan di wilayah tersebut.

Data tersebut dipaparkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango, dr. Meyrin Kadir, saat menyampaikan laporan pada kegiatan Koordinasi, Advokasi, dan Sosialisasi Pencegahan serta Pengendalian Penyakit yang digelar di Hotel Amaris, Kota Gorontalo, Rabu (15/7/2026).

Menurut dr. Meyrin, tingginya angka kasus ISPA menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan beban pelayanan kesehatan apabila tidak diimbangi dengan upaya pencegahan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat.

“Kasus ISPA masih menjadi yang paling tinggi berdasarkan data SKDR, mencapai 4.882 kasus sepanjang tahun ini,” ungkapnya.

Selain ISPA, Dinas Kesehatan juga mencatat 1.284 kasus diare akut, 298 suspek demam tifoid, serta 303 kasus pneumonia. Dari kasus pneumonia tersebut, tercatat dua pasien meninggal dunia.

Sementara itu, penyakit menular lain yang masih menjadi perhatian adalah malaria. Hingga pertengahan tahun 2026, Bone Bolango mencatat 116 kasus malaria terkonfirmasi. Di sisi lain, Demam Berdarah Dengue (DBD) mencapai 47 kasus dengan dua korban meninggal dunia.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan juga mencatat 22 kasus suspek leptospirosis yang menyebabkan satu kematian, serta 52 kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) yang mengakibatkan satu korban meninggal dunia.

Dr. Meyrin menjelaskan, meningkatnya kasus malaria perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi mengganggu status eliminasi malaria yang selama ini berhasil dipertahankan Kabupaten Bone Bolango. Meski demikian, ia menegaskan sebagian besar kasus yang ditemukan merupakan kasus impor.

“Kasus malaria yang ditemukan sebagian besar merupakan kasus impor, yaitu masyarakat yang terpapar malaria saat berada di luar daerah kemudian kembali ke Bone Bolango. Selain itu terdapat pula kasus pada pekerja tambang,” jelasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga masyarakat terus diperkuat agar upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian penyakit menular dapat berjalan lebih optimal. Dengan demikian, risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) dapat diminimalkan dan derajat kesehatan masyarakat Bone Bolango terus meningkat.