Melawan Gejolak Harga dari Pekarangan, Sekda Iwan Mustapa Serukan Gerakan Tanam Cabai

Bonebolango284 Dilihat

POROSNEWS.ID, Bone Bolango — Harga cabai tidak pernah sekadar angka di pasar. Ketika harganya bergerak naik, yang ikut bergerak adalah pengeluaran rumah tangga, biaya makan, dan pada akhirnya daya beli masyarakat.

Karena itu, menghadapi gejolak harga cabai tidak cukup hanya dengan melihat pasar. Pemerintah Kabupaten Bone Bolango mendorong masyarakat ikut mengambil bagian dari sisi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: pekarangan rumah.

Pesan itu disampaikan Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, saat mengikuti gerakan tanam cabai di belakang Kantor Bupati Bone Bolango, Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa, Jumat (25/9/2026).

Gerakan tersebut digagas Dharma Wanita Ekbang Sekretariat Daerah Bone Bolango. Bagi Iwan, kegiatan ini bukan semata-mata kegiatan menanam, tetapi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membantu mengendalikan tekanan harga cabai yang berkontribusi terhadap inflasi daerah.

“Apalagi bulan terakhir ini harga cabai meningkat luar biasa. Bone Bolango ini termasuk yang inflasinya tinggi terhadap komoditas cabai,” kata Iwan.

Di titik inilah pekarangan memiliki arti yang lebih besar. Tanah yang selama ini mungkin hanya menjadi ruang kosong di sekitar rumah dapat diubah menjadi ruang produksi.

Satu rumah menanam beberapa pohon cabai mungkin terlihat kecil. Tetapi jika dilakukan oleh banyak rumah, dalam waktu yang sama, lahan-lahan kecil itu berubah menjadi kekuatan produksi yang tersebar di tengah masyarakat.

Logikanya sederhana: pasokan bertambah, ketergantungan terhadap pasokan dari luar dapat berkurang, dan masyarakat memiliki sumber cabai sendiri.

“Sehingga program ini bisa mengendalikan harga cabai di pasar, termasuk mendukung ketahanan pangan di daerah. Petani dan masyarakat bisa diuntungkan,” ujar Iwan.

Gerakan itu juga membawa pesan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya urusan pemerintah, pasar, atau petani dalam arti sempit. Ada ruang bagi masyarakat untuk ikut mengambil bagian.

Dharma Wanita Ekbang Sekda Bone Bolango diharapkan menjadi salah satu penggerak agar gagasan tersebut tidak berhenti di lingkungan pemerintahan, tetapi menjalar ke rumah-rumah masyarakat.

Iwan mengatakan, masyarakat tidak perlu menunggu memiliki lahan luas untuk mulai menanam.

“Untuk menanam cabai tidak perlu pekarangan besar. Cukup dengan lahan pekarangan, lahan kecil pun cukup untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” katanya.

Dengan demikian, gerakan tanam cabai sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pangan, tetapi juga ikut menjadi bagian dari produksinya.

Di tengah tekanan harga, setiap pot cabai yang tumbuh di pekarangan menjadi kontribusi kecil terhadap ketersediaan pangan. Ketika kontribusi kecil itu dilakukan secara bersama-sama, ia dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Bone Bolango kini mencoba memulai dari hal sederhana: menanam apa yang bisa ditanam, di tanah yang tersedia, untuk kebutuhan yang nyata.

Sebab ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari lahan yang luas. Kadang ia bermula dari halaman rumah, dari tangan masyarakat sendiri, lalu tumbuh menjadi gerakan bersama. (MRL)