Kebun Pangan Perempuan Jadi Strategi Integrasikan Gizi Keluarga dan Pemberdayaan Ekonomi di Ayula Selatan

Bonebolango39 Dilihat

POROSNEWS.ID , Bone Bolango – Program Kebun Pangan Perempuan (KPP) di Desa Ayula Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, diarahkan menjadi salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi perempuan.

Program tersebut merupakan bagian dari Aktivasi Ruang Bersama Indonesia (RBI), sebuah proyek percontohan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) RI yang mengintegrasikan ketahanan pangan, pemenuhan gizi, dan pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis potensi lokal.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bone Bolango, Roswaty Agus, mengatakan pengembangan KPP membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh perempuan dan keluarga.

Menurutnya, pemanfaatan pekarangan dan lahan produktif di sekitar rumah dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Jika dikelola secara optimal, kebun tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi sumber pendapatan tambahan.

“Pekarangan dan lahan produktif di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Jika dikelola dengan baik, potensi tersebut juga bisa dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi perempuan,” kata Roswaty dalam Rapat Koordinasi Pemberdayaan Perempuan melalui program RBI di Desa Ayula Selatan.

Dalam pelaksanaannya, Kemen PPPA RI menggandeng lembaga masyarakat yang memenuhi kriteria sebagai mitra program. Di Kabupaten Bone Bolango, lembaga yang terlibat adalah LM Yayasan Ma’arif yang diketuai Marni Nisabu.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bone Bolango turut mendukung pelaksanaan program, terutama dalam aspek budidaya, pemanfaatan lahan, pemilihan komoditas pangan, serta penerapan praktik pertanian yang sesuai dengan kondisi wilayah.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu perempuan mengelola kebun secara produktif, sehingga manfaatnya tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi kegiatan usaha.

KPP sendiri mengusung tiga pilar utama, yakni penguatan ketahanan pangan dan gizi keluarga, pemberdayaan ekonomi restoratif dan kemandirian perempuan, serta pelestarian tanaman dan kuliner lokal.

Ketiga pilar tersebut menjadi landasan untuk mendorong pemanfaatan potensi lokal secara lebih luas. Hasil kebun diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga, sementara komoditas tertentu berpeluang diolah menjadi produk lokal yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Roswaty berharap Desa Ayula Selatan dapat mengembangkan model pemberdayaan perempuan yang menghubungkan sektor pangan, pemenuhan gizi, dan ekonomi keluarga.

Menurutnya, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari tanaman yang tumbuh atau kebun yang dikelola, tetapi dari manfaat nyata yang dirasakan perempuan dalam memenuhi kebutuhan pangan, meningkatkan produktivitas, dan memperluas peluang usaha.

Melalui pengembangan KPP, potensi pekarangan diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih mandiri sekaligus memperkuat peran perempuan dalam perekonomian berbasis komunitas.