Catatan kecil dari Bandung: Menanam Harapan Menuai Kemandirian

Berita Utama70 Dilihat

POROSNEWS.ID – Di sentra Wiyata Guna Bandung, sebuah peristiwa sederhana berlangsung, namun sarat makna. Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, bersama Ibu Wamen, Intan Nurul Fadilah Agus Jabo, menanam dua pohon dan memberinya nama. Satu pohon dinamai Kyai Ontowiryo, dan satu lagi Nyai Retno Madubronto. Nama yang tidak sekadar indah, tetapi menyimpan doa, filosofi, dan arah perjuangan, Jumat (24/4/2026).

“Kyai” dan “Nyai” bukan sekadar gelar. Ia adalah simbol kebijaksanaan, keteduhan, dan akar nilai yang dalam. “Ontowiryo” berasal dari kata Anta yang berarti puncak dan Wirya yang berarti keberanian atau kemuliaan. Ia menggambarkan keberanian yang mencapai titik tertinggi, daya hidup yang tidak setengah-setengah. Sementara “Retno Madubronto” memadukan makna Retno sebagai permata yang berharga, dan Madubronto sebagai kelembutan yang menumbuhkan kasih dan kerinduan yang mendalam. Satu melambangkan kekuatan, satu melambangkan keindahan. Keduanya adalah wajah utuh dari kesejahteraan.

Yang ditanam pun bukan tanpa makna. Bapak Wamen Agus Jabo menanam pohon kelengkeng sebagai simbol ketekunan dan hasil yang manis. Kelengkeng tidak berbuah seketika, ia membutuhkan waktu, perawatan, dan kesabaran. Namun ketika berbuah, ia memberi hasil yang berlimpah dan bernilai. Ini adalah gambaran dari proses pemberdayaan yang tidak instan, tetapi pasti menghasilkan jika dikelola dengan sungguh-sungguh.

Sementara itu, Ibu Wamen Intan Nurul Fadilah menanam pohon alpukat. Alpukat dikenal sebagai buah bernilai tinggi, bergizi, dan memiliki daya ekonomi yang kuat. Ia melambangkan keberlanjutan dan nilai tambah, bahwa setiap upaya pemberdayaan harus mampu meningkatkan kualitas hidup, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

Dua nama dan dua pohon ini bukan hanya ditanam di tanah, tetapi ditancapkan dalam visi besar Memakmurkan Sentra.

Pemberian nama itu menjadi penegasan bahwa sentra tidak boleh berhenti sebagai tempat layanan semata. Ia harus bertumbuh menjadi ruang hidup, ruang harapan, dan ruang kemandirian. Bapak Wamen menegaskan arah itu dengan jelas: sentra harus menjadi pusat pemberdayaan yang berdampak nyata, bukan sekadar tempat menyalurkan bantuan. Sentra harus memberi makna, sekaligus menghadirkan dampak yang terukur dalam kehidupan masyarakat penerima manfaat, sehingga mampu mempercepat proses graduasi menuju kemandirian.

Di Sentra Wiyata Guna Bandung, cita-cita itu bukan wacana. Ia sudah berdenyut dalam aktivitas sehari-hari. Masyarakat penerima manfaat tidak lagi hanya menerima, tetapi mulai mencipta. Dapur berubah menjadi ruang produksi, kain menjadi batik ciprat bernilai, lahan menjadi sumber pangan dan usaha. Bantuan sosial tidak berhenti sebagai belas kasih, tetapi bergerak menjadi energi produktif yang mendorong percepatan graduasi.

Kisah Anisa menjadi bukti yang tak terbantahkan. Dari seorang penerima manfaat, ia kini mampu menghasilkan hingga delapan juta rupiah per bulan dari usaha kue kering. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah cerita tentang martabat yang pulih, tentang keberanian yang mencapai puncaknya, dan tentang harapan yang menemukan bentuk nyata sekaligus menjadi jalan keluar dari ketergantungan.

Program ini tidak akan berhenti di Bandung. Ia akan diperluas kepada masyarakat dalam DTSEN dan direplikasi di sentra-sentra di seluruh Indonesia. Visi besarnya jelas: menjadikan sentra sebagai pusat pemberdayaan yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat, serta mempercepat graduasi penerima manfaat menjadi mandiri.

Apa yang ditanam hari itu bukan hanya pohon. Ia adalah simbol arah baru. Bahwa kesejahteraan tidak cukup diberikan, tetapi harus ditumbuhkan. Bahwa bantuan tidak boleh menciptakan ketergantungan, tetapi harus melahirkan keberanian untuk mandiri.

Dan seperti Kyai Ontowiryo yang melambangkan kekuatan hingga puncaknya, serta Nyai Retno Madubronto yang menghadirkan keindahan dan kasih yang hidup, ditambah kelengkeng yang menjanjikan hasil manis dari proses panjang, serta alpukat yang melambangkan nilai dan keberlanjutan, sentra diharapkan akan terus bertumbuh, berakar kuat, dan berbuah lebat, memberi makna sekaligus dampak nyata, serta mempercepat graduasi, bukan hanya bagi yang ada di dalamnya, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Budi Prasetyo Hadi, Tenaga Ahli Menteri Sosial.