POROSNEWS.ID, Jakarta – Global Thinkers Institute-GTI, Fakultas ilmu sosial dan politik, Jurusan HI UPN “Veteran” Jakarta dan Global Future Institute-GFI menyelenggarakan seminar geopolitik,
“Neokolonialisme dan Neonazisme; Tantangan Dunia Multipolar Negara-Negara Selatan (Global South) dan ASEAN, ” di Auditorium Mulyono Sudirman, Fakultas Kedokteran UPNVJ, Pondok
Labu, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026).
Dihadiri beragam pembicara. Plt. Wakil Rektor Bidang Akademik UPNVJ, Henry Binsar H. Sitorus (Sambutan 1), Muhammad Ma’ruf, Ph.D, Direktur Global Thinkers Institute-GTI (Sambutan 2). Mani Eriza, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Multilateral, Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN), Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Keynote-speaker).
Para nara sumber; Marsekal Pertama TNI (Purn.) R. Agung Sasongkojati, pengamat geopolitik dan militer, Hendrajid, Direktur The Global Future Institute (GFI). Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si., Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar, Musa Maliki, Ph.D., dosen Hubungan Internasional UPNVJ. Diskusi dipandu oleh
Muhammad Ma’ruf, Ph.D.Henry
Henry memberi penekaan tentang pentingnya kemandirian kebijakan luar negeri Indonesia sekaligus pentingnya memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai negara tanpa terjebak
dalam persaingan kepentingan kekuatan besar.
ASEAN memiliki posisi penting dalam menjaga stabilitas, memperkuat ketahanan regional, dan membangun solidaritas antarnegara agar dapat menangkal bentuk dominasi politik dan ekonomi
sebagai manifestasi dari Neokolonialisme.
Muhammad Ma’ruf memberi garis besar, pertama, Neokolonialisme dan Neonazisme adalah dua ideologi yang sedang dibangkitkan secara aktif di Eropa timur (Ukraina) dan dinormalisasi kembali kedunia selatan.
Dinamika politik global saat ini diwarnai oleh berbagai upaya untuk memanipulasi sejarah dan propaganda untuk kepentingan politik tertentu. Salah satu fenomena yang membutuhkan perhatian serius adalah kampanye yang dilakukan oleh Ukraina di negara-negara Global Selatan. Kampanye
ini berupaya mengagungkan
individu-individu yang pernah berkolaborasi dengan Nazi Jerman selama Perang Dunia II, dengan menggambarkan mereka sebagai pejuang anti-kolonial. Narasi ini tidak hanya menyesatkan tetapi juga mengaburkan pemahaman tentang sejarah Nazisme dan
kolonialisme.
Kedua, baik Neokolonialisme dan Neonazisme adalah ideologi yang bertentangan dengan kemanusiaan serta keadilan, bertentangan dengan ideologi Pancasila. Selamanya harus di tolak
karena tidak memiliki sandaran moral-politik yang kuat.
Ketiga, Neokolonialisme dan Neonazisme secara inhern adalah ideologi berbasis supremasi ras dan kelas. Memiliki kecenderungan ekspansif dan memaksa. Bertentangan dengan semangat
Multipolar dan Pancasila; kesetaraan, kedaulatan, dan penghormatan martabat manusia.
Negara-negara selatan dan ASEAN secara alamiah-historis memiliki memori sebagai korban kolonialisme dan fasisme Nazi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Memori itu tidak bisa di hapus dari ingat publik. Membentuk identitas bangsa Indonesia yang anti kolonial. Menyatu
dalam pembukaan konstitusi Republik Indonesia, memberi mandat untuk menjadi manusia dan bangsa yang merdeka, aktif menghapus penjajahan (kolonialisme).
Menurut Ma’ruf, Tata Kelola Dunia Multipolar senafas dengan semangat Pancasila dan Bhineka Tunggal Eka. Sementara Tata Kelola Dunia Unipolar jelas bertentangan dengan Pancasila dan
Bhineka Tunggal Ika. Unipolar berbasis pada universalisme nilai Barat sebagai standar nilai, selain Barat harus patuh. Berbasis pada satu pusat komando militer (NATO). Anti HAM, hukum internasional dan demokrasi, yang terkadang menampilkan wajah selektif dan penuh standar
ganda.
Sementara Masni memberi penekanan bahwa arsitektur politik luar negri Indonesia sekarang adalah sintesis strategis bebas-aktif dan pro terhadap tatanan dunia Multipolar, mewujudkan ekosistem global yang adil dan setara, tidak ada dominasi tunggal, hukum internasional di tegakan
konsisten bagi seluruh bangsa.
Kebijakan politik bebas-aktif berbasis Multipolar ini, menurut Masni memilki landasan moral dan historis; sesuai dengan amanah konstitusi, (komitmen abadi untuk ketertiban dunia dan keadilan
sosial. Bebas-aktif, artinya independensi strategis yang proaktif, bukan netralitas pasif. Menjaga semangat bandung 1955, merupakan episentrum historis solidaritas global melawan kolonialisme.
Kemenlu Indonesia mendorong transformasi menuju tata kelola Multipolar. Menghubungkan lintas Utara-Selatan, negara maju-negara berkembang, berpatner dengan semua, tanpa memiliki
aliansi. Menjadikan ASEAN sebagai platform multilateral regional yang menstabilkan melalui kesepakatan bersama.
Agung memberi penekanan bahwa perang yang dilancarkan USA, Eropa Barat melawan Rusia menggunakan proxi Ukraina dilakukan dalam kerangka ekpansi NATO ketimur.
Dimulai dengan operasi revolusi warna 2014 di Ukraina, merupakan rangkaian operasi sebagaimana pergantian
rezim di Irak, Venuezela, Suriah dan Iran.
US dan Barat memobilisasi dan memperalat proxi dengan mengguanakan beragam isu disesuaikan dengan negara tarjet.
Diantaranya naziisme, khilafah, suni-syiah, anti semit. Di Ukraina dengan menggunakan sentimen Neo-Nazi dipakai untuk membangun Rushpobia dan melawan Rusia.
Namun bagi Agung yang berpaham realis, dapat memahami posisi Rusia dibawah Putin yang menganggap langkah ekpansif US-Barat-Ukraina sebagai ancama eksistensial bagi keutuhan federasi Rusia.
Kekuatan unipolar memiliki esensi yang sama dengan neokolonialisme, karena di dukung oleh arsitektur militer barat; menguasai samudera dan udara via kapal induk, Namun sistem ini memiliki kerentanan dan mampu di tangkal oleh Rusia; dengan S 400, keunggulan manufaktur produksi amunisi mencapai 3 juta dibanding NATO dan US mencapai 1.2 juta, membangun koridor logistik darat; BRI dan INSTC anti blokade laut.
Agung menawarkan 4 doktrin politik bebas aktif Indonesia berbasis Multipolar;
Pertama, real politik multipolar ; negara harus mengendalikan sumber daya kontrol mutlak atas rantai pasok, mencegah operasi adu domba dan intervensi perubahan rezim.
Kedua; kontra lawfare; mematahkan penyalahgunaan aturan laut, FIR dan arbitrase internasional,
menghilangkan mental menyalahkan, menawarkan perdamaian tapi dengan kekuatan.
Agung berpesan untuk tidak menjadi penonton pasif, mengajak untuk berhenti menjadi korban neokolonialisme. Selalu waspada terhadap intervensi asing, waspada tehadap operasi perubahan
rezim. Melakukan upaya diplomasi aktif menjaga stabilitas kawasan, memperkuat kedaulatan militer , memiliki keberanian moral, bebas dari ketergantungan asing dan penguasaan peta geopolitik.
Beberapa usulan dari Agung, Pertama, melakukan rekonseptualisasi politik bebas aktif yang netral menjadi daya tangkal startegis. Memanfaatkan kemandirian menolak dikte dari luar, memproyeksikan stabilitas serta kedaulatan nasional melalui pendekatan reaslism strategis.
Kedua, memiliki kedalaman geoekonomi energi, kontrol mineral kritis sebagai check poin ekonomi dunia.
Ketiga, memanfatkan keuanggulamn maritim dan udara, mengusaia Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Flight Information Region (FIR), Zona Ekonomi Eksklusif ( ZEE) secara mutlak.
Keempat, memanfaatkam kedalaman srategis teritorial, doktrin startegis teritorial. Doktrin pertahanan rakyat semesta yang membebani lawan.
Menurut Agung, paska perang dunia kedua, hanya ada dua kekuatan(bipolar), perang dingin antara US vs Uni Soviet. Setelahnya Uni Soviet pecah, US menjadi kekuatan Unipolar. Membangun arsitektur Unipolar dengan membangun 800 pangkalam militer di 70 negara. Memainkan standar
ganda aturan narasi internasional dan sanksi, mengontrol keuangan dunia dengan SWIFT, mengontrol Dubai dan Singapura sebagai HUB. Melancarkan perang proxi dan perubahan rezim.
Tahun 1990, US mulai mekakukan ekpansi NATO ke timur membendung pengaruh Rusia. Membangun AUKUS dan QUAD untuk membendung pengaruh maritim Tiongkok.
Krisis BaratKini barat sedang mengalami krisis legitimasi mutidimensi; moral, hukum, militer dan ekonomi.
Krisis ini mengakibatkan kehancuran kepercayaan keuangan global. Barat membangun narasi. Pasar bebas, pada saat yang sama memberi sanksi sepihak pada Iran dan Rusia. Menggunakan
USD sebagai senjata, membekukan 300 USD miliar aset Rusia.
Memberlakukan standar ganda hukum, dan menyalahgunkan hak veto PBB sehingga merusak moral tatanan internasional. Mempropagandakan bahwa Federasi Rusia kelanjutan dari imperialisme dan kolonialisme zaman Uni Soviet.
Meskipun secara geografis atau letak bumi, Rusia adalah negara utara, tetapi dalam peta politik dan diplomasi global, Federasi Rusia sering beririsan dan kini sedang membangun aliansi dengan
kubu Global South dan ASEAN.
Perang yang dilancarkan USA, Eropa Barat melawan Rusia menggunakan proxi Ukraina
dilakukan dalam keraangka ekpansi NATO ketimur. Dimulai dengan taktik revolusi warna 2014 di Ukraina, merupaka rangkaian operasi pergantian rezim sebagaimana di Irak, Venuzela, Suriah dan Iran.
Perang yang di ancarkan US dengan NATO, Eropa Barat, Ukraina dan Israel melawan Rusia dan Iran memperlihatkan kemampuan US yang tebatas. Doktrin pengusaan samudera dengan kapal induk dan superioritas udara dapat di lumpuhkan dengan rudal berpresisi tinggi, industri militer bawah tanah, drone dan penguasaan daratan yang merupakan bagian dari kontra neokolonialisme.
Menurut Agung, negara selatan kini aktif melakukan langkah kontra neokolonialisme,
diantaranya, adanya revolusi wilayah Sahel; Mali, Burkina Faso, dan Niger mengusir pasukan neokolonialisme.
Adanya program hilirisasi Nikel Indonesia, bertahan dari gugatan WTO dalam kerangka
kedaulatan ekonomi bagian anti kolonialisme.
Langkah kontra neokolonialisme lainya, pembentukan BRICS dan Shanghai Cooperation Organisation (SCO). Adanya kebijakan dedolarisasi ekonomi masif, dengan transaksi Local Currency Settlement (Economics & Banking)-LCS, Cross-border Interbank Payment SystemCIPS, dan membangun New Development Bank-NDB menggantikan dominasi SWIFT.
Negara selatan yang memiliki dominasi sumber daya negara, menurtu Agung seharusnya dapat mengontrol komoditas utama dan menolak menjadi perantara.
Hendrajid Hendrajid memberi beberapa poin. Isu merkantilisme yang popular pada awal kolonialisme, kini dihidupkam kembali dibawah Unipolar -Trump, berupa perusahaan-perusahaan big data.
Indonesia menurut Hendrajid, semestinya mengambil kesempatan langkah-langkah pembangkitan neokolonialisme yang menjadi kebijakan Trump dapat dimanfaatkan Indonesia untuk
mengaktifkan semangat konferensi nonblok, tahun 1955. Adanya fenomena Neonazisme di Ukraina sekarang merupakan operasi sisa kekuatan barat yang coba pakai untuk melawan Rusia.
Musa mengutip Kwame Nkrumah (1965), “Neokolonialisme juga merupakan bentuk imperialisme terburuk. Bagi mereka yang mempraktikkannya, itu berarti kekuasaan tanpa tanggung jawab, dan bagi mereka yang menderita karenanya, itu berarti eksploitasi tanpa jalan keluar.”
Neokolonialisme sebenarnya adalah sistem yang jauh lebih kompleks dan menyeluruh, beroperasi pada tingkat politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Musa berkeyakinan, US sekarang adalah perwujudan dari neokolonialisme (poskolonialisme) terburuk. Meski begitu, kebijakan neokolonialisme bisa bernafas panjang akibat mental masyarakat yang sudah terkoloni. Sebagaimana Sukarno mengatakan, perjuanganku lebih mudah
karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Terbukti kontrak freeport dengan Indonesia, hingga 2061.






