Ketua PMI Ruwaida Gerak Cepat Krisis Ketersediaan Darah di Bone Bolango

Bonebolango71 Dilihat

POROSNEWS.ID, Bone Bolango – Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bone Bolango, Ruwaida Ismet Mile mulai bergerak cepat merespons krisis ketersediaan darah di Kabupaten Bone Bolango dengan menggagas kolaborasi besar bersama PKK hingga ke tingkat desa.

Langkah ini diambil setelah PMI menghadapi realitas serius di lapangan, di mana permintaan darah terus meningkat, sementara stok di Unit Transfusi Darah (UTD) kerap mengalami kekosongan.

Dalam rapat rutin PMI di Markas PMI Bone Bolango, Selasa (7/4/2026), Ruwaida secara terbuka mengungkap kondisi tersebut. Ia mengaku sering menerima permintaan mendesak dari masyarakat yang membutuhkan darah, namun tidak selalu dapat terpenuhi.

Permintaan banyak, tapi stok sering kosong. Kadang harus ke kota untuk mencari darah,” tegasnya yang juga ketua TP PKK Kabupaten Bone Bolango.

Kondisi ini dinilai sebagai alarm serius bagi PMI Bone Bolango. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dinilai tidak bisa terus dipertahankan, terutama dalam situasi darurat yang menyangkut keselamatan jiwa.

Sebagai solusi, PMI menggandeng PKK yang dinilai memiliki jaringan kuat hingga ke tingkat dasa wisma. Melalui kolaborasi ini, PMI akan mendorong edukasi masif, sosialisasi, serta pembentukan relawan donor darah berbasis masyarakat.

Target utama gerakan ini adalah menciptakan basis pendonor aktif dari kalangan masyarakat sendiri, khususnya ibu-ibu dan generasi muda.

Langkah awal pun langsung disiapkan. Rapat rutin PKK di seluruh kecamatan akan dimanfaatkan sebagai ruang kampanye kemanusiaan untuk meningkatkan kesadaran donor darah.

“PMI tidak bisa berjalan sendiri. PKK punya jaringan kuat sampai ke desa. Ini harus kita satukan untuk menjawab kekurangan darah,” ujar Ruwaida.

Ia optimistis, jika gerakan ini berjalan konsisten, Bone Bolango tidak lagi bergantung pada daerah lain dalam memenuhi kebutuhan darah. Lebih jauh, kolaborasi ini diharapkan mampu membangun budaya donor darah sukarela yang berkelanjutan.

“Jangan sampai ada nyawa terancam hanya karena darah tidak tersedia. Ini gerakan kemanusiaan, dan harus kita menangkan bersama,” pungkasnya. (RML).