Iwan Mustapa: Santri Bukan Hanya Pewaris Sejarah, tetapi Penentu Masa Depan Indonesia

Bonebolango87 Dilihat

POROSNEWS.ID, Bone Bolango – Sejarah tidak pernah berhenti pada mereka yang berjuang merebut kemerdekaan. Sejarah menemukan kelanjutannya melalui generasi yang mampu menjawab tantangan zamannya. Bagi Sekretaris Daerah Kabupaten Bone Bolango, Iwan Mustapa, santri memiliki tanggung jawab besar untuk mengambil peran tersebut.

Pesan itu disampaikan Sekretaris Daerah Iwan Mustapa saat menghadiri Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Khairul Hikmah, Desa Longalo, Kecamatan Bulango Utara, Kamis (22/10/2026).

Di hadapan para santri, Iwan mengingatkan bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan seremonial. Momentum ini merupakan ruang untuk membaca kembali sejarah perjuangan ulama dan santri, sekaligus merumuskan peran generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.

Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu penanda penting bagaimana kekuatan keyakinan, kesadaran kebangsaan, dan keberanian rakyat bertemu dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Semangat itu kemudian menemukan salah satu ekspresinya dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Namun, menurut Iwan, setiap zaman memiliki medan perjuangannya sendiri. Jika generasi terdahulu berhadapan dengan kolonialisme secara langsung, generasi santri hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks: kesenjangan pengetahuan, perubahan teknologi, dan kebutuhan membangun peradaban yang lebih maju.

“Kalau dahulu para pejuang mengangkat bambu runcing untuk melawan penjajah, hari ini adik-adik santri menghadapi tantangan yang berbeda. Kita berjuang melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan upaya menegakkan peradaban,” tegas Iwan.

Pernyataan itu menempatkan pendidikan bukan sekadar jalan untuk memperoleh pekerjaan atau kedudukan. Pendidikan merupakan instrumen untuk membangun kemandirian, memperluas kemampuan manusia, dan mengubah keadaan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, santri dituntut melampaui peran sebagai penerima pengetahuan. Mereka perlu menjadi pencipta gagasan, penghasil karya, dan pelaku inovasi yang mampu memberikan jawaban atas persoalan nyata di tengah masyarakat.

Iwan menilai perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kreativitas. Akan tetapi, kemajuan teknologi tidak dengan sendirinya menjamin kemajuan peradaban.

Tanpa integritas dan tanggung jawab moral, teknologi justru dapat menjadi sarana penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, perundungan, serta berbagai bentuk perilaku yang merusak kehidupan sosial.

Karena itu, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan akhlak, kemampuan berpikir kritis, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

“Jadilah generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan karya dan inovasi. Kesuksesan bukan hanya diukur dari kedudukan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain,” ujarnya.

Bagi Iwan, tantangan santri masa kini bukan memilih antara mempertahankan tradisi atau menerima modernitas. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan moral untuk menguasai pengetahuan dan menghadirkan kemajuan.

Pesantren memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Lembaga pendidikan ini tidak hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan moderasi beragama, dan memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Namun, tanggung jawab menyiapkan generasi masa depan tidak dapat dibebankan kepada pesantren semata. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, keluarga, dan masyarakat perlu membangun kerja sama agar para santri memperoleh ruang yang memadai untuk berkembang.

Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan generasi yang religius sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, mandiri dalam berpikir, berintegritas dalam bertindak, serta mampu bersaing tanpa kehilangan jati diri.

Di tengah perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat, santri juga diingatkan untuk menjaga persatuan, mencintai tanah air, menghormati perbedaan, dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Iwan menegaskan, identitas santri tidak seharusnya membatasi ruang pengabdian. Sebaliknya, nilai-nilai yang dipelajari di pesantren harus menjadi bekal untuk mengambil bagian dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga pembangunan sosial.

“Santri bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penggerak perubahan. Santri bukan hanya pelaku sejarah, tetapi juga penentu masa depan Indonesia,” tegasnya.

Pesan Hari Santri Nasional, dengan demikian, bukan hanya tentang mengenang keberanian generasi terdahulu. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjawab persoalan zamannya.

Iwan pun mengajak para santri untuk terus belajar, menghormati guru dan orang tua, serta mengamalkan ilmu bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Teruslah berjuang, teruslah belajar, dan jangan pernah menyerah dalam menggapai cita-cita,” tutupnya.