Hadapi Perubahan Iklim dan Ancaman Inflasi, Bone Bolango Perkuat Pertanian Modern melalui PM-AAS

Bonebolango34 Dilihat

POROSNEWS.ID, Bone Bolango — Di tengah perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan pangan global, kemampuan daerah memproduksi pangan sendiri menjadi semakin penting. Ketahanan pangan tidak cukup dibangun melalui perluasan lahan, tetapi juga membutuhkan pembaruan teknologi, peningkatan produktivitas, dan keberpihakan terhadap kesejahteraan petani.

Semangat tersebut mengemuka dalam Gerakan Tanam Serentak menggunakan metode PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agricultural System) yang dilaksanakan pada Minggu, 11 Oktober 2026, di lahan Kelompok Tani Suka Maju, Desa Ayula Timur, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango.

Pemerintah Kabupaten Bone Bolango mendorong penerapan pertanian modern sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan produksi padi, memperkuat kemandirian pangan daerah, dan mengantisipasi tekanan inflasi beras.

Pesan Bupati Bone Bolango dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Asisten III yang hadir mewakili pemerintah daerah sekaligus mewakili Bupati.

Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pangan saat ini tidak lagi sekadar persoalan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Di tengah ketegangan geopolitik dan gangguan rantai pasok global, pangan telah menjadi komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan ekonomi dan kedaulatan suatu bangsa.

Daerah yang memiliki kemampuan produksi pangan yang kuat akan mempunyai daya tahan lebih baik ketika menghadapi gejolak pasokan maupun kenaikan harga di pasar.

Karena itu, penguatan produksi pangan lokal di Bone Bolango menjadi bagian penting dari upaya menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat.

Pertanian Modern untuk Menjawab Tantangan Zaman

Tantangan yang dihadapi petani semakin kompleks. Perubahan iklim menyebabkan cuaca sulit diprediksi, meningkatkan risiko kekeringan, serta memengaruhi pola dan jadwal musim tanam.

Dalam situasi tersebut, pendekatan pertanian perlu terus berkembang. Petani tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, tetapi juga membutuhkan dukungan teknologi, pendampingan, dan sistem produksi yang lebih efisien.

Penerapan metode PM-AAS menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan pertanian modern yang berorientasi pada peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Dalam sambutan yang disampaikan mewakili Bupati, terdapat dorongan untuk meningkatkan target produksi padi dari 6 ton menjadi 10 ton per kelompok tani dan penyuluh. Target ini diharapkan menjadi motivasi untuk meningkatkan kinerja produksi sekaligus memperkuat orientasi hasil dalam pembangunan pertanian.

Pencapaian target tersebut tentu membutuhkan perencanaan yang matang, penerapan teknologi sesuai kondisi lahan, ketersediaan sarana produksi, serta pendampingan penyuluh secara berkelanjutan.

Penyuluh pertanian memiliki posisi penting dalam proses perubahan ini. Mereka tidak hanya bertugas memberikan arahan teknis, tetapi juga membantu petani menerapkan inovasi agar peningkatan produktivitas dapat dicapai secara nyata.

Produksi Beras dan Upaya Menekan Inflasi

Selain berkaitan dengan produktivitas, gerakan tanam serentak ini juga memiliki dimensi ekonomi yang penting, yakni pengendalian inflasi pangan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras premium di Kabupaten Bone Bolango menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak dapat dipisahkan dari stabilitas harga dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketika pasokan pangan terbatas sementara permintaan tetap tinggi, tekanan terhadap harga dapat meningkat. Dampaknya paling dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Melalui penerapan PM-AAS, pemerintah daerah berharap peningkatan produksi padi dapat memperkuat ketersediaan beras lokal dan menjadi salah satu langkah antisipatif untuk meredam tekanan inflasi pada periode mendatang.

Namun, peningkatan produksi di tingkat petani perlu diikuti pengelolaan pascapanen, penyimpanan, distribusi, dan pemantauan harga yang baik. Produksi yang meningkat harus dapat diterjemahkan menjadi ketersediaan beras di pasar agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Dengan demikian, pertanian modern tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada kontribusinya terhadap stabilitas ekonomi daerah.

Petani sebagai Penggerak Kemandirian Pangan

Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menyampaikan apresiasi kepada Kelompok Tani Suka Maju dan para penyuluh yang telah menginisiasi gerakan tersebut.

Dukungan terhadap inovasi pertanian dinilai penting untuk mendorong petani meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas hasil panen, serta menghadapi risiko perubahan iklim.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bone Bolango, anggota DPRD Kabupaten Bone Bolango dari Komisi III, Hendra Suleman, A.Md., Kasat Binmas yang mewakili Kapolres, serta unsur pemerintah kecamatan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya penguatan sektor pertanian di tingkat lokal.

Pada akhirnya, keberhasilan program pertanian modern tidak cukup diukur dari pelaksanaan tanam serentak. Ukuran yang lebih penting adalah peningkatan produktivitas yang dapat dibuktikan, keberlanjutan pendampingan petani, terjaganya pasokan pangan, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat tani.

Sebab, kemandirian pangan bukan semata-mata tentang kemampuan menanam dan memanen. Lebih dari itu, kemandirian pangan adalah kemampuan daerah membangun sistem produksi yang tangguh, menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok, dan memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang layak dari kerja mereka.

Melalui gerakan di Desa Ayula Timur ini, pertanian modern diharapkan menjadi bagian dari langkah nyata Bone Bolango dalam memperkuat ketahanan pangan dan menghadapi tantangan ekonomi pada masa mendatang.